
Sejarah Mina
Mina adalah lembah sempit di antara Makkah dan Arafah, terletak sekitar tujuh kilometer dari Masjidil Haram. Namanya dalam riwayat masyhur dikaitkan dengan tempat berkumpulnya manusia, karena di sinilah jamaah haji berdiam dan bermalam selama beberapa hari dalam perjalanan ibadah mereka.
Menurut riwayat, Mina juga terkait dengan peristiwa ujian Nabi Ibrahim عليه السلام ketika diperintahkan menyembelih putranya, Nabi Ismail عليه السلام. Sebelum perintah itu dilaksanakan, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan yang besar — sebuah peristiwa yang menjadi dasar syariat kurban. Jejak peristiwa ini diabadikan dalam ibadah melontar jumrah yang masih dilakukan jamaah hingga kini.
Kedudukan dalam Ibadah Haji
Mina menjadi lokasi beberapa amalan haji yang penting. Jamaah bermalam di sini pada hari-hari tasyrik setelah wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah, serta melaksanakan amalan yang menjadi bagian dari rangkaian haji.
- Mabit di Mina pada malam-malam hari tasyrik.
- Melontar jumrah di tiga tiang: Ula, Wustha, dan Aqabah.
- Kurban sebagai bagian dari rangkaian amalan, bila mampu.
Kawasan ini dipenuhi tenda-tenda jamaah, sehingga dikenal luas sebagai kota tenda. Karena padatnya jamaah, ketertiban dan pengaturan waktu menjadi kunci kelancaran seluruh amalan di Mina.
Dalil & Riwayat
Al-Qur'an mengabadikan peristiwa tebusan Nabi Ismail yang berkaitan dengan syariat kurban. Allah berfirman:
"Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." — QS As-Saffat: 107
Allah juga memerintahkan berzikir pada hari-hari yang telah ditentukan bilangannya, yaitu hari-hari tasyrik di Mina, sebagaimana disebut dalam QS Al-Baqarah: 203. Rasulullah ﷺ mencontohkan mabit dan melontar jumrah selama hajinya, dan amalan tersebut diikuti umat Islam hingga kini dengan urutan hari yang telah ditetapkan.
Amalan & Doa di Mina
Amalan di Mina berlangsung dalam beberapa hari yang padat. Beberapa hal yang biasa dilakukan jamaah selama berada di kota tenda ini, dengan tetap mengedepankan ketertiban dan keselamatan bersama.
- Mabit dengan tertib selama tiga malam hari tasyrik, atau dua malam bagi yang bertakjil.
- Melontar jumrah pada waktunya, dengan menjaga keselamatan bersama.
- Memperbanyak zikir, takbir, dan doa di sela amalan.
- Menjaga kebersihan tenda dan tidak membuang sampah sembarangan.
Melontar dilakukan dengan membaca takbir pada setiap lemparan. Terpenting adalah mengikuti jadwal yang ditetapkan pembimbing agar tidak berdesakan di area jamarat, terutama pada jam-jam sibuk.
Catatan untuk Jamaah Indonesia
Mina sangat padat pada musim haji. Jamaah Indonesia dianjurkan selalu bersama rombongan, mengingat nomor tenda, dan tidak berjalan sendiri di luar jalur yang ditentukan. Mencatat lokasi tenda serta titik kumpul membantu menghindari tersesat di tengah keramaian.
Jaga kesehatan dengan istirahat cukup dan tidak memaksakan diri saat melontar. Ikuti jadwal rombongan dan arahan petugas demi keselamatan seluruh jamaah. Bila merasa lelah atau kurang sehat, sampaikan kepada pembimbing agar dapat dibantu dengan tepat. Selama beberapa hari di Mina, atur waktu istirahat dengan baik karena rangkaian amalan berlangsung padat. Simpan barang bawaan di tenda dan jangan meninggalkan barang berharga tanpa pengawasan. Kebersamaan dan ketertiban rombongan akan membantu kelancaran seluruh amalan di Mina.
Apa yang Jamaah Lakukan di Mina
Di Mina jamaah menjalani rangkaian amalan yang terikat hari: bermalam pada malam-malam tasyrik serta melontar tiga jumrah — Ula, Wustha, dan Aqabah — masing-masing tujuh kerikil. Sebagian jamaah juga menunaikan kurban hadyu sebagai bagian amalan bagi yang menuntut dam.
Di sela amalan, jamaah memperbanyak zikir, takbir, tilawah, dan doa. Waktu luang dimanfaatkan untuk beristirahat karena hari-hari di Mina cukup padat, terlebih bagi jamaah lanjut usia. Melontar dilakukan dengan membaca takbir pada setiap lemparan, mengikuti jadwal yang ditetapkan pembimbing.
Waktu dan Suasana Hari Tasyrik
Tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah disebut hari tasyrik. Pada hari-hari ini Mina dipenuhi tenda dan jamaah, dan waktu melontar umumnya berlangsung sejak tergelincirnya matahari.
Kerumunan di area jamarat bisa sangat besar, terutama pada waktu puncak. Jamaah yang memilih nafar awal meninggalkan Mina pada 12 Dzulhijjah setelah melontar, sedangkan yang memilih nafar tsani tinggal sampai 13 Dzulhijjah. Suasana malam di Mina terasa berbeda dari Makkah: lebih sunyi dari hiruk pikuk mataf, namun tetap hidup dengan suara takbir dan tilawah.
Kesalahan Umum di Mina
Beberapa kekeliruan yang sering terjadi selama di Mina:
- Berjalan sendiri di luar jalur yang ditentukan sehingga tersesat di antara tenda.
- Lupa nomor tenda rombongan atau lokasi mabit.
- Melontar pada waktu paling padat tanpa arahan, sehingga berisiko cedera.
- Menganggap mabit di Mina sebagai pilihan, padahal ia termasuk amalan wajib yang menuntut dam bila ditinggalkan karena uzur.
Selalu bersama rombongan, mengikuti jadwal, dan menjaga ketenangan membantu jamaah menyelesaikan amalan Mina dengan tertib.
Tips Praktis Mabit di Mina
Mabit di Mina berlangsung pada malam-malam yang cukup dingin dan ramai. Jamaah dianjurkan menyiapkan alas tidur sederhana dan pakaian hangat, serta menyimpan barang penting dekat tubuh. Bawa air minum, obat pribadi, dan catatan nomor tenda.
Untuk melontar, ikuti jadwal rombongan agar tidak berdesakan, dan bawa kerikil yang telah disiapkan secukupnya. Bila kondisi fisik melemah, segera sampaikan kepada pembimbing agar ada penyesuaian, termasuk kemungkinan memanfaatkan keringanan yang dibolehkan bagi yang uzur.
Dalil & Sumber
Pertanyaan Umum
Apa itu mabit di Mina?
Mabit adalah bermalam di Mina pada malam-malam hari tasyrik setelah jamaah bertolak dari Muzdalifah.
Ada berapa tiang jumrah di Mina?
Ada tiga: jumrah Ula, jumrah Wustha, dan jumrah Aqabah. Ketiganya dilontar sesuai urutan waktu yang telah ditentukan.
Bolehkah mabit hanya dua malam?
Ya, jamaah boleh bertakjil, yaitu mempercepat kepulangan setelah dua malam mabit di Mina, sesuai ketentuan yang berlaku.