Siapa Siti Hajar?
Siti Hajar عليها السلام adalah istri Nabi Ibrahim عليه السلام dan ibu dari Nabi Ismail عليه السلام. Namanya harum dalam sejarah karena kesabarannya ketika ditinggalkan bersama bayi Ismail di lembah Makkah yang tandus, tanpa tanaman dan tanpa air.
Ia bukan sekadar tokoh pinggiran dalam kisah para nabi. Justru dari keteguhan hatinya di tanah yang gersang itulah tumbuh satu kota suci, satu mata air, dan satu rangkaian manasik yang hingga kini dikerjakan jutaan jamaah haji setiap tahun.
Namanya tidak disebut secara eksplisit dalam ayat, tetapi kisahnya diriwayatkan dalam hadis sahih. Keteguhannya di lembah yang tandus menjadi salah satu babak paling menyentuh dalam sejarah pembentukan kota Makkah.
Kisahnya mengingatkan bahwa peran seorang ibu dan kesabaran seorang perempuan dapat menjadi sebab lahirnya sebuah peradaban suci.
Jejak Hajinya
Menurut riwayat yang masyhur, ketika bekal air di tempat itu habis dan bayinya kehausan, Siti Hajar berlari menaiki bukit Safa, memandang ke lembah, lalu menuju bukit Marwa, dan mengulanginya tujuh kali dalam pencarian yang penuh harap kepada Allah. Perjalanan inilah yang menjadi asal usul sa'i antara Safa dan Marwa.
Di tengah usahanya, atas izin Allah memancarlah air dari dekat kaki Ismail — mata air yang kemudian dikenal sebagai Zamzam. Air itu tidak pernah kering dan menjadi sebab orang-orang mulai menetap di lembah tersebut.
- Safa dan Marwa — dua bukit yang menjadi lintasan larinya, kini bagian dari rangkaian sa'i.
- Zamzam — mata air yang menurut riwayat muncul saat ia mencari air untuk Ismail.
- Hijr Ismail — menurut riwayat, ia dimakamkan di kawasan ini bersama putranya.
Ketika Nabi Ibrahim عليه السلام meninggalkannya di tempat yang tidak berpenghuni, ia mengikuti perintah itu dengan tenang setelah mengetahui bahwa itu adalah perintah Allah. Ia menerima keadaan, lalu berusaha dengan sungguh-sungguh.
- Tujuh kali bolak-balik — perjalanan penuh harap antara Safa dan Marwa yang menjadi dasar sa'i.
- Menetap di Makkah — ia hidup di lembah itu bersama Ismail hingga suku Jurhum menetap dan lembah mulai ramai.
Keteladanan
Keteladanan Siti Hajar عليها السلام adalah ikhtiar yang tidak putus disertai tawakkal. Ia tidak duduk menunggu pertolongan datang, tetapi berusaha sekuat tenaga — berkali-kali berlari mencari air — sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Kisahnya mengajarkan bahwa usaha maksimal dan pasrah kepada Allah bukanlah dua hal yang bertentangan. Justru keduanya berjalan bersama, dan itulah yang dihidupkan kembali dalam setiap langkah sa'i.
Kesabarannya bukan kesabaran yang pasif. Ia tetap bergerak mencari air, tetapi hatinya berserah. Perpaduan ikhtiar dan tawakal itulah yang membuat namanya harum dan dikenang setiap kali jamaah menempuh jalan sa'i.
Menurut riwayat, setelah mata air Zamzam memancar, burung-burung mulai berdatangan dan kemudian suku Jurhum menetap di lembah itu. Dari keteguhan Hajar, lembah gersang perlahan berubah menjadi tempat yang dihuni manusia.
Sisi Kemanusiaan: Seorang Ibu di Tengah Ketidakpastian
Kisah Siti Hajar عليها السلام bukan kisah seseorang tanpa keraguan; ia seorang ibu yang ditinggalkan bersama bayinya di tempat yang tidak dikenalinya. Menurut riwayat, ketika menyadari keadaan itu ia berlari bolak-balik mencari jalan keluar — tindakan seorang manusia yang sedang berusaha menyelamatkan anaknya.
Yang membedakan adalah arah hatinya: ia terus bergerak mencari sementara harapannya tertuju kepada Allah. Sisi kemanusiaan inilah yang membuat kisahnya dekat dengan siapa pun, termasuk jamaah yang datang ke tanah suci membawa kekhawatiran dan beban masing-masing.
Sumber & Catatan
Kisah Siti Hajar عليها السلام bersumber dari Al-Qur'an dan hadis. Perincian waktu tidak dapat dipastikan, sehingga disebutkan dengan hati-hati:
- Hadis — kisah Hajar ditinggalkan di Makkah dan larinya antara Safa dan Marwa diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari.
- Al-Qur'an — Surah Ibrahim: 37 menyebut lembah yang ditempati keturunan Ibrahim di dekat Baitullah.
- Catatan — tarikh pasti peristiwa ini tidak dapat dipastikan; yang masyhur adalah kisahnya.
Kisah Siti Hajar عليها السلام juga mengajarkan tentang keberanian seorang ibu. Ia menjaga dan mengasuh Ismail di tengah kesulitan, dan dari keteguhannya tumbuh satu kota suci yang menjadi tujuan jutaan manusia setiap tahun.
Makam dan Jejak Ziarah Hari Ini
Menurut riwayat, Siti Hajar عليها السلام dimakamkan di kawasan Hijr Ismail bersama putranya Nabi Ismail عليه السلام. Letak yang persis tidak dapat dipastikan, sehingga yang diriwayatkan adalah kawasannya, bukan penanda yang dapat diverifikasi.
Sementara itu, Safa dan Marwa yang menjadi lintasan larinya tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian haji. Setiap jamaah yang menempuh sa'i berjalan di jejak yang sama — tempat seorang ibu dulu berlari tanpa putus asa. Mengenangnya berarti mengingat bahwa keteguhan hati dapat melahirkan sesuatu yang bertahan hingga hari ini.
Dalil & Sumber
Pertanyaan Umum
Mengapa sa'i antara Safa dan Marwa dikaitkan dengan Siti Hajar?
Menurut riwayat, Siti Hajar عليها السلام berlari antara Safa dan Marwa tujuh kali dalam usahanya mencari air untuk bayi Ismail. Perjalanan itu menjadi asal usul sa'i yang dikerjakan jamaah haji dan umrah.
Apa hubungan Siti Hajar dengan air Zamzam?
Menurut riwayat, ketika air bekal habis dan Ismail kehausan, atas izin Allah memancar air dari dekat kaki bayi Ismail. Mata air itu dikenal sebagai Zamzam dan tidak pernah kering hingga kini.
Di mana Siti Hajar dimakamkan?
Menurut riwayat, Siti Hajar عليها السلام dimakamkan di kawasan Hijr Ismail, di sisi Ka'bah, bersama putranya Nabi Ismail. Letak ini disebutkan berdasarkan riwayat.