Beranda › Tokoh Berhaji › Rasulullah Muhammad ﷺ
Haji Wada' 10 H / 632 M

Rasulullah Muhammad ﷺ

Nabi Muhammad ﷺ menunaikan Haji Wada' 10 H / 632 M bersama sekitar 100.000 sahabat dan menetapkan manasik haji.

محمد ﷺ

10 H / 632 M · Padang Arafah

Siapa Rasulullah ﷺ?

Rasulullah Muhammad ﷺ adalah nabi terakhir dan penutup para nabi. Beliau lahir di Makkah, berhijrah ke Madinah, dan dalam masa kenabiannya membersihkan Ka'bah dari berhala serta mengembalikan haji kepada tuntunan Nabi Ibrahim عليه السلام.

Beliau menunaikan haji hanya satu kali seumur hidup, yaitu pada tahun 10 Hijriah atau 632 Masehi. Meski hanya sekali, haji itu menjadi rujukan utama seluruh manasik yang dikerjakan umat Islam hingga hari ini.

Rasulullah ﷺ lahir di Makkah dan menerima wahyu pada usia empat puluh tahun. Setelah hijrah ke Madinah, beliau menata kaum muslimin, dan pada tahun 8 Hijriah kota Makkah dibebaskan tanpa pertumpahan darah.

Beliau menunaikan haji hanya sekali, tetapi perjalanan itu memuat pengajaran yang lengkap tentang manasik. Dari perbuatan dan sabdanya, para sahabat meriwayatkan urutan ibadah secara terperinci.

Jejak Hajinya

Perjalanan yang dikenal sebagai Haji Wada' (haji perpisahan) itu diikuti sekitar 100.000 sahabat. Rasulullah ﷺ berihram, bertalbiyah, lalu berhenti di Padang Arafah untuk wukuf dan menyampaikan khutbah yang agung — menegaskan kesucian darah, harta, dan kehormatan setiap muslim, serta menutup dengan penegasan bahwa telah disampaikan risalah.

Dari haji inilah para sahabat meriwayatkan urutan manasik secara terperinci: ihram, tawaf, sa'i, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, melontar jumrah, hingga tawaf ifadah. Sabda beliau menjadi dasar mengapa tata cara ini diwarisi turun-temurun tanpa berubah.

  • Miqat — batas-batas memulai ihram yang hingga kini dipakai jamaah dari berbagai arah.
  • Padang Arafah — tempat wukuf dan khutbah Arafah disampaikan.
  • Manasik — urutan ibadah haji yang ditetapkan dari perbuatan dan sabda beliau.

Haji Wada' menjadi puncak pengajaran manasik. Di sana beliau memberi contoh langsung bagaimana ihram, talbiyah, tawaf, sa'i, wukuf, dan seluruh rangkaian haji dikerjakan, lalu memerintahkan para sahabat mengikutinya.

  • Khutbah Arafah — satu khutbah dengan pesan persamaan, kehormatan, dan tanggung jawab menyampaikan kebenaran.
  • Sekitar 100.000 sahabat — jumlah yang menyertai perjalanan haji terakhir beliau menurut riwayat yang masyhur.

Keteladanan

Dalam Haji Wada', Rasulullah ﷺ menampilkan kepemimpinan yang penuh kasih dan kejelasan. Beliau memerintahkan para sahabat mengambil manasik langsung dari beliau, sehingga tidak ada keraguan dalam beribadah.

Khutbah Arafah menegaskan persamaan derajat manusia, kehormatan jiwa dan harta, serta tanggung jawab menyampaikan kebenaran. Inilah teladan bahwa haji bukan hanya ritual, tetapi juga momen memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

Dalam haji itu beliau juga mengajarkan makna perpisahan. Beliau menutup khutbahnya dengan penegasan bahwa telah menyampaikan risalah dan menunaikan amanah, serta meminta para sahabat menjadi saksi atas hal itu.

Pesan yang paling menonjol dalam khutbah itu adalah persamaan derajat manusia: tidak ada keutamaan seseorang atas yang lain kecuali karena takwanya. Pesan itu tetap bergema setiap musim haji.

Kutipan yang Masih Diucapkan Setiap Musim

Di antara warisan Haji Wada' yang paling hidup adalah sabda beliau ﷺ: “Ambillah dariku manasik hajimu.” Sabda itulah yang menjadikan manasik haji berdiri di atas perbuatan dan sabda beliau, bukan di atas kebiasaan yang diwarisi tanpa dasar.

Sabda beliau yang lain, “Haji itu (wukuf di) Arafah,” menegaskan pusat dari seluruh rangkaian, dan perintah menyempurnakan haji dan umrah melengkapi ketiganya. Ucapan-ucapan ini masih dibaca dan diamalkan hingga kini. Bagi jamaah, mengucapkan talbiyah dan berdiri di Arafah berarti mengulang kalimat yang sama dengan yang diucapkan generasi pertama.

Sumber & Catatan

Peristiwa Haji Wada' termasuk yang paling terang tercatat dalam riwayat. Datanya disebutkan dengan penuh kehati-hatian:

  • Waktu — menurut kesepakatan riwayat, haji ini berlangsung pada tahun 10 Hijriah (632 Masehi).
  • Jumlah — sekitar 100.000 sahabat menurut riwayat yang masyhur.
  • Hadis — sabda beliau agar umat mengambil manasik dari beliau, serta penegasan bahwa haji adalah wukuf di Arafah.

Bagaimana pun jauh zaman, tata cara ibadah haji yang dikerjakan jamaah hari ini menelusuri jejak perbuatan dan sabda beliau. Karena itulah Haji Wada' menjadi rujukan tertinggi dalam manasik.

Karena itu, mempelajari Haji Wada' bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan memahami dasar tata cara ibadah yang dikerjakan umat Islam hingga kini.

Apa yang Ditinggalkan bagi Jamaah Hari Ini

Haji Wada' meninggalkan urutan ibadah yang jelas: ihram dari miqat, tawaf, sa'i, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, melontar jumrah, hingga tawaf perpisahan. Rangkaian ini diteruskan dari generasi ke generasi tanpa perubahan mendasar.

Selain tata cara, beliau ﷺ juga meninggalkan pesan tentang persamaan manusia dan tanggung jawab menjaga kehormatan. Dua warisan itu — bentuk ibadah dan akhlak yang menyertainya — yang membuat haji tetap menjadi ibadah yang utuh: rukun yang dikerjakan dengan benar, dan hati yang pulang membawa perubahan.

Dalil & Sumber

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ
“Ambillah dariku manasik hajimu.”
الْحَجُّ عَرَفَةُ
“Haji itu (wukuf di) Arafah.”
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.

Pertanyaan Umum

Berapa kali Rasulullah ﷺ menunaikan haji?

Rasulullah ﷺ menunaikan haji satu kali seumur hidup, yaitu pada tahun 10 Hijriah atau 632 Masehi, yang dikenal sebagai Haji Wada' atau haji perpisahan.

Mengapa Haji Wada' penting bagi umat Islam?

Karena dalam haji itu Rasulullah ﷺ menyampaikan khutbah Arafah dan memerintahkan para sahabat mengambil manasik langsung dari beliau, sehingga urutan ibadah haji hingga kini bersumber dari perbuatan dan sabdanya.

Apa inti khutbah Arafah?

Khutbah Arafah menegaskan kesucian jiwa, harta, dan kehormatan setiap muslim, persamaan derajat manusia, serta tanggung jawab menyampaikan kebenaran. Pesan itu menjadi pedoman hidup, bukan hanya saat berhaji.

Siap Menunaikan?

Tanya langsung, jangan menebak.

Harga terbaru, ketersediaan seat, jadwal kloter, sampai alamat kantor dan legalitasnya — kami jawab lengkap di satu chat WhatsApp. Tidak ada formulir, tidak menunggu balasan email.

Chat Konsultasi WhatsApp Lihat Paket 1447H
Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) berizin Kementerian Agama RI · PPIU No. 0213010012486 · +62 821-1268-5085
Tanya Sekarang