
Sejarah Berdirinya Ka'bah
Ka'bah adalah bangunan berbentuk kubus di tengah Masjidil Haram, Makkah, yang menjadi kiblat seluruh umat Islam. Namanya disebut juga Baitullah, artinya rumah Allah, karena di tempat inilah manusia diarahkan untuk menghadap dalam shalat dan mengelilinginya dalam thawaf. Menurut riwayat masyhur, bangunan ini ditegakkan Nabi Ibrahim عليه السلام bersama putranya, Nabi Ismail عليه السلام, di atas fondasi yang telah ada sebelumnya. Keduanya mengangkat dinding-dinding Baitullah sambil berdoa agar ibadah mereka diterima Allah dan keturunan mereka dijadikan umat yang berserah diri.
Sepanjang sejarahnya, Ka'bah beberapa kali mengalami perbaikan. Menurut riwayat, kaum Quraisy membangunnya kembali sebelum masa kenabian, dan Nabi Muhammad ﷺ ikut meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya ketika terjadi perselisihan di antara kabilah. Pada Fathu Makkah 8 H / 630 M, Ka'bah dibersihkan dari berhala dan dikembalikan sebagai rumah ibadah kepada Allah semata. Sejak saat itu ia tetap menjadi poros ibadah haji dan umrah bagi seluruh umat Islam di dunia.
Kedudukan dalam Ibadah Haji
Ka'bah adalah titik pusat rangkaian ibadah haji. Thawaf — mengelilingi Ka'bah tujuh kali — adalah rukun yang mengawali dan menjadi bagian dari hampir seluruh amalan haji maupun umrah. Arah kiblat seluruh masjid di dunia juga diarahkan kepadanya, sehingga keberadaan Ka'bah menyatukan arah ibadah umat Islam dari berbagai penjuru bumi.
- Thawaf, mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran, dimulai dan diakhiri dari arah Hajar Aswad.
- Hajar Aswad di sudut tenggara, batu yang menjadi penanda awal setiap putaran.
- Maqam Ibrahim di dekatnya, tempat shalat dua rakaat setelah thawaf.
- Hijr Ismail di sisi utara, kawasan yang menurut riwayat termasuk bagian Baitullah.
Karena itu, memahami posisi pintu, sudut, dan lantai Masjidil Haram membantu jamaah menjalani thawaf dengan lebih tenang dan tertib.
Dalil & Riwayat
Al-Qur'an menyebut Ka'bah sebagai rumah ibadah pertama yang ditetapkan bagi manusia. Allah berfirman:
"Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia adalah (Baitullah) yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam." — QS Ali Imran: 96
Firman Allah juga mengabadikan doa Ibrahim dan Ismail ketika mengangkat fondasi Baitullah, sebagaimana disebut dalam QS Al-Baqarah: 127. Keduanya berdoa agar amal mereka diterima, karena Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ayat lain menegaskan bahwa Baitullah dijadikan tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia.
Amalan & Doa di Sekitar Ka'bah
Bagi jamaah yang berada di Masjidil Haram, beberapa amalan berikut biasa dilakukan. Semua amalan dilakukan dengan tenang, tanpa berdesakan, dan tetap menjaga adab di hadapan Baitullah. Menahan diri dari dorong-mendorong adalah bagian dari menjaga keselamatan jamaah lain, terutama lansia dan anak-anak yang ikut dalam rombongan.
- Memulai dan mengakhiri setiap putaran thawaf dari arah Hajar Aswad.
- Shalat dua rakaat di dekat Maqam Ibrahim setelah thawaf, bila memungkinkan.
- Meminum air Zamzam dan berdoa di kawasan Multazam.
- Memperbanyak zikir, talbiyah, dan doa sepanjang berada di dalam masjid.
Sebaiknya jamaah mengatur waktu agar tetap kuat, karena rangkaian ibadah haji memerlukan stamina yang cukup.
Catatan untuk Jamaah Indonesia
Pandangan pertama ke Ka'bah sering menjadi momen yang paling dikenang seumur hidup. Karena itu penting mengatur diri: dahulukan ibadah, hindari berdesakan, dan ikuti arahan petugas. Jamaah dari Indonesia yang datang melalui jalur haji mujamalah maupun reguler tetap mengikuti tata cara manasik yang sama, sehingga kesiapan ilmu menjadi bekal utama.
Perhatikan nomor pintu, lantai, dan gerbang tempat Anda masuk, agar mudah kembali ke penginapan setelah selesai rangkaian ibadah. Simpan kartu identitas rombongan, dan jangan ragu bertanya kepada pembimbing bila ada hal yang belum dipahami.
Bagian-Bagian Ka'bah yang Perlu Dikenali
Sebelum menjalani thawaf, mengenali bagian-bagian Ka'bah membantu jamaah menentukan arah dan menghitung putaran. Beberapa bagian yang lazim dikenali:
- Hajar Aswad — batu di sudut tenggara, titik mulai dan akhir setiap putaran tanpa perlu menyentuhnya bila keadaan padat.
- Rukun Yamani — sudut sebelum Hajar Aswad; disunnahkan mengusapnya bila memungkinkan.
- Maqam Ibrahim — batu tempat berpijak Nabi Ibrahim ketika membangun Ka'bah, di dekatnya jamaah shalat dua rakaat setelah thawaf.
- Hijr Ismail — kawasan melengkung di sisi utara yang termasuk bagian Ka'bah, sehingga thawaf dilakukan di luar batasnya.
- Pintu dan Mizab — pintu pada sisi timur laut, sedangkan Mizab adalah saluran air di atasnya.
Mengenali letak bagian-bagian ini membuat jamaah lebih tenang menentukan posisi, terutama saat kerumunan padat.
Apa yang Jamaah Lakukan di Sekitar Ka'bah
Di sekitar Ka'bah jamaah menjalani serangkaian amalan yang saling berkaitan. Bagi yang baru tiba, biasanya dimulai dengan thawaf — baik thawaf umrah, thawaf ifadhah, maupun thawaf sunnah — lalu shalat dua rakaat di dekat Maqam Ibrahim bila ada ruang.
Setelah itu jamaah dapat meminum air Zamzam, berdoa, dan memperbanyak zikir sambil memandang Baitullah. Sebagian jamaah memilih memperpanjang doa di Multazam pada waktu yang tidak terlalu padat.
Alur amalan ini tidak harus berurutan kaku. Yang penting setiap amalan dikerjakan dengan tenang, tidak menghalangi jamaah lain, dan niatnya dijaga agar ibadah tetap sah serta khusyuk.
Kesalahan Umum Jamaah di Depan Baitullah
Kerumunan di depan Ka'bah membuat beberapa kekeliruan mudah terjadi. Beberapa yang sering muncul:
- Berhenti di tengah alur thawaf untuk berfoto atau memandang lama, sehingga menghambat jamaah di belakang.
- Memaksa masuk untuk mencium Hajar Aswad, padahal cukup memberi isyarat tangan bila keadaan padat.
- Kehilangan hitungan putaran karena terburu-buru; jamaah dianjurkan menandai tiap putaran dengan zikir tertentu.
- Berdoa terlalu lama di titik yang sempit sehingga menahan arus jamaah.
Menjaga ketenangan, mengalah, dan mengikuti arus adalah bagian dari adab di hadapan Baitullah sekaligus menjaga keselamatan bersama.
Dalil & Sumber
Pertanyaan Umum
Apakah Ka'bah sama dengan Baitullah?
Ya. Ka'bah disebut juga Baitullah, artinya rumah Allah — bangunan berbentuk kubus di tengah Masjidil Haram yang menjadi kiblat umat Islam.
Berapa kali putaran thawaf mengelilingi Ka'bah?
Tujuh putaran, dimulai dan diakhiri dari arah Hajar Aswad di sudut tenggara Ka'bah.
Bolehkah menyentuh Hajar Aswad?
Bila memungkinkan dan tidak menimbulkan berdesakan, jamaah dapat mencium atau menyentuhnya. Bila tidak, cukup memberi isyarat dengan tangan sambil mengucapkan takbir.